Studia Club Bandung ::

Bangkit, Raih Masa Depan Gemilang Hanya dengan Islam!

27.7.04

Melawan AIDS dengan Kondom?

Edisi 205/Tahun ke-5 (26 Juli 2004)

Banyak pihak masih percaya hampir seratus persen, bahkan mungkin sampe tujuh turunan yakin kalo AIDS bisa dicegah dengan penggunaan karet kondom. Lihat aja sebuah iklan layanan masyarakat yang kerap muncul di layar kaca. Bang Harry Rusli sebagai model utama dalam iklan itu dengan jelas dan terang mengkampanyekan kondom sebagai solusi menghentikan laju penyebaran AIDS, “Kenakan kondom atau kena!” Duilee pede banget ya?

Penyakit yang belum ada obatnya ini memang udah merajalela. Nyaris nggak ada tempat untuk bersembunyi dari kejaran wabah maut HIV/AIDS yang penyebarannya emang secepat kilat (hiperbolik banget neh!)

Berdasarkan catatan UNAIDS, badan dunia yang khusus menangani masalah AIDS ini, tercatat pada tahun 2002 saja, jumlah penderita AIDS di dunia mencapai 42 juta jiwa. Kita yakin, ini yang tercatat, sementara yang nggak tercatat (termasuk penderita yang nggak mau dicatat) bisa jadi merupakan angka “gelap” laksana bom waktu.

Sekadar tahu, tahun lalu saja (2003), jumlah penderita AIDS bertambah 5 juta jiwa. Angka ini termasuk 700 ribu bocah di bawah usia 15 tahun. Asia Timur dan Tengah termasuk paling cepat dijarah penyakit ini (Koran Tempo, 13 Juli 2004) .

Masih menurut catatan Koran Tempo edisi tersebut, sebagai gambaran aja pada tahun 2003, di Afrika (Sub-Sahara) sekitar 3,2 juta orang terinfeksi virus ini, dan 2,3 juta di antaranya koit. Tragedi banget neh! Saat ini, di Afrika sudah mengoleksi sebanyak 26,6 juta jiwa yang berhasil terkena HIV.

Sementara di Asia Timur dan Tenggara, pada tahun yang sama mencatat angka 210 ribu orang terinfeksi virus mematikan ini, 45 ribu di antaranya tewas. Di Asia Selatan, dari 855 ribu orang yang terinfeksi, 460 ribu di antaranya meninggalkan dunia fana ini. Wis, pokoknya ini udah merupakan gejala menyeluruh di sekujur belahan dunia. Mengenaskan.

Ketika obat mujarab untuk membereskan HIV/AIDS belum ditemukan, orang kemudian searching berbagai kemungkinan untuk sekadar menahan laju wabah ini. Mereka berusaha mencegahnya. Namun sayangnya, kenapa musti kondom yang jadi pilihan? Bahkan di negeri ini juga sampe diatur dalam undang-undang segala.

Dalam Strategi Nasional Penanggulangan AIDS (Keppres No. 36/1994 yang diatur dalam Keputusan Menko Kesra No. 9/Kep/Menko/Kesra/IV/1994) antara lain disebutkan “... penyediaan dan pemanfaatan kondom dan lain-lain, merupakan unsur-unsur penting dalam pelaksanaan yang efektif dari kebijaksanaan ini (maksudnya strategi penanggulangan AIDS secara nasional— pen .).” Ciloko!

Well ini bukan tanpa sebab sobat. Maklumlah, masyarakat kita saat ini kadang belaga pilon atau emang pilon beneran (kayaknya pilon beneran deh, soalnya ada sinetron berjudul Culunnya Pacarku .. hihi... apa hubungannya?)

Kenapa pilon? Karena sebenarnya mereka menyadari bahkan sadar betul kalo penyebaran virus maut ini paling efektif melalui hubungan seks yang nggak aman. Maksudnya, seks bebas dan doyan berganti-ganti pasangan, gitu. Nah, ketika kondom ditemukan, meski pada awalnya adalah ditujukan untuk kontrasepsi, para maniak seks bebas mengira bahwa kondom cukup aman untuk menangkal sang virus agar tak masuk dan bersarang di tubuhnya. Tapi nyatanya, sejak dulu dikampayekan penggunaan karet KB ini, eh, angka penderita HIV/AIDS malah semakin meningkat tajam. Hal ini bahkan memicu turunnya harga diri manusia yang menistakan dirinya di komplek-komplek pelacuran dan dalam ajang baku syahwat yang bebas nian. Apa nggak tulalit tuh?

Kondom KO lawan virus HIV

Sebelum ngomongin kelemahan kondom, biar nyambung, kamu yang belum tahu istilah HIV/AIDS perlu juga baca info ini. HIV adalah Human Immuno Deficiency Virus , suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit.

Sementara AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome , yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun,oleh karena adanya virus HIV di dalam darah.

Nah, kondom yang sebenarnya dibuat dengan tujuan sebagai alat kontrasepsi ini nggak tahan melawan virus HIV yang tentu ukurannya jauh kecil ketimbang sperma. Virus dilawan? Wong untuk melihatnya aja butuh pembesaran ribuan kali pake mikroskop elektron. Jadinya, KO deh.

Prof. Dr. Dadang Hawari menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari berbagai kalangan tentang kontroversi kondom sebagai pencegah penyebaran AIDS yang kemudian beliau kirim ke Harian Republika dan dimuat dalam rubrik SuaraPublika , 13 Sepetmber 2002. Berikut sebagian data-data tersebut:

--> Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektivitas kondom diragukan.

--> Pernyataan J Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom hanya 70 persen.

--> Penelitian yang dilakukan oleh Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences , Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Dari 89 kondom yang diperiksa (yang beredar di pasaran) ternyata 29 dari padanya terdapat kebocoran, atau dengan kata lain tingkat kebocoran kondom mencapai 30 persen.

--> Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus pori-pori kondom.

--> M Potts (1995), Presiden Family Health International , salah seorang pencipta kondom, mengakui, “Kami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya.

--> V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.

--> Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam me-reka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995) .

--> Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Biran Affandi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan bahwa besarnya sperma seperti ukuran jeruk Garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20 persen, apalagi untuk program HIV/AIDS akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya.

Mengakhiri pernyataan ini Prof. Dadang Hawari meyakini bahwa dari data-data tersebut di atas jelaslah bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan kebohongan. Tuh, catet!

Contoh yang ‘kualat' dalam kasus ini adalah dua bintang film porno Amrik terinfeksi HIV/AIDS, padahal setiap akan beradegan panas dihimbau untuk pake kondom (meski beberapa perusahaan film porno AS akan membayar mahal aktor yang berani beradegan hot tanpa mengenakan kondom). Kontan aja ini membuat sejumlah perusahaan film porno di AS puasa produksi (padahal Sekadar tahu aja, di Amrik sono, tercatat, 4000 film porno diproduksi setiap tahun, dan uang yang dihasilkan lebih dari 12 milyar dolar AS. Wacks!) setelah bintang andalan mereka, Darren James dan artis Lara Roxx, yang pernah bermain bersama setidaknya dalam satu film dinyatakan positif terinfeksi HIV/AIDS. (kompas.com, 21 April 2004) .

Berantas seks bebas!

Sobat muda muslim, kalo kamu bisa berpikir jernih dan menggunakan akal sehat, melawan AIDS dengan kondom sama aja dengan bodoran alias lawakan. Kabayan atau tokoh pandir lainnya pasti merasa tersaingi. Gimana nggak, sudah jelas kelemahannya, masih aja dianggap dewa penyelamat. Tulalit!

Jadi, wahai remaja muslim, janganlah kalian menertawakan kekonyolan kampanye itu, karena memang sudah konyol. Hihihihi…

Nah, karena penyakit ini lebih disebabkan akibat liarnya perilaku manusia dalam menyalurkan naluri seksualnya, maka stop perilaku seks bebas yang jelas nggak beradab itu. Kalo hewan sih mending kali yee.. gaul bebas karena nggak ada syariatnya dan mereka jelas nggak mikir. Karena tentu saja, adanya aturan itu adalah untuk makhluk yang berakal, yang bisa memahami sebuah perintah dan larangan serta hakikat dari kebenaran.

Oke deh, pertama kali yang kudu dilakukan adalah membenahi keyakinan manusia tentang adanya siksa dan pahala, adanya hisab dan azab. Tanamkan akidah Islam yang kuat menghunjam ke benak. Kalo udah yakin begini, kayaknya nggak bakalan berani deh deket-deket dengan zina, termasuk budaya pacaran yang merupakan pintu gerbangnya. Meski yakin bahwa itu akan dilakukan dengan cara yang aman dan bebas penyakit, tapi karena udah yakin dengan hisab dan azab Allah, mereka takut untuk berbuat nekatz zina, karena inget firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” ( QS al-Isrâ' [17]: 32)

Sobat muda muslim, melawan AIDS dengan kampanye kondom (tanpa melarang seks bebas dan memberantas komplek-komplek pelacuran), sama saja dengan mengundang kematian akibat AIDS dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Di dieu yeuh bahayanya! [solihin]

20.7.04

Setelah Pemilu Berlalu...

Pemilu kali ini beda! Begitulah bunyi iklan yang kagak bosen-bosennya nongol menjelang pesta rakyat berlangsung. Se-telah delapan kali pelaksanaan pemilu (tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999) . Tahun 2004 ini emang beda. Tahu dong bedanya?

Pertama, kali ini para rakyat bisa milih langsung wakilnya yang duduk di lembaga perwakilan rakyat maupun duet pemimpin negeri ini. Kalo dulu, kita cuma nyoblos tanda gambar parpol. Lalu, parpol yang bakal nentuin siapa wakilnya yang duduk di kursi ‘basah’ MPR/DPR. Makanya dalam pemilu kali ini kita banyak nemuin tempelan foto-foto wakil rakyat dan pasangan capres-cawapres nampang di tembok, angkot, sampe telepon umum (untungnya nggak ada yang nempel di sampul buku surat Yaasin. Hehehe…)

Kedua, pemilu kali ini berjalan 3 putaran. Pemilu legislatif (milih wakil rakyat) tanggal 5 April yang diikuti 24 partai. Dan ‘semi final’ pemilu eksekutif (milih presiden) tanggal 5 Juli yang diikuti 5 pasang peserta. Kalo di semi final nggak ada pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50%, maka berlangsung babak final pada tanggal 5 September yang hanya diikuti dua kandidat. Itu berarti 3 kandidat kudu tereliminasi alias angkat koper dari bursa ca (wa) presiden. Dan perlu dicatat, nggak ada perebutan juara ketiga lho! (emangnya turnamen sepakbola hehehe...).

Hiruk-pikuk kampanye Pemilu
Masa kampanye menjadi saat yang paling dinanti oleh masyarakat. Di sinilah tempatnya untuk ngasih dukungan kepada para kontestan pemilu. Sekaligus ajang yang pas buat nyari kaos atau souvenir gratisan. Asyiknya lagi, banyak calon wakil rakyat yang tiba-tiba jadi dermawan. Mereka rela merogoh kocek buat rehab mushola, bantuan sembako, sampe biaya bangun TPS demi menjaring simpati masya-rakat. Para peserta pemilu juga gencar bikin acara bakti sosial, panggung musik, tempel stiker, pasang spanduk sampe konvoi kenda-raan bermotor. Pokoknya meriah euy!

Biar kampanye sukses, pasti yang satu ini nggak boleh ketinggalan dan kudu ngalir deras. Yup, apa lagi kalo bukan: duit! Benda ini memang ajaib. Bisa masang spanduk, nempelin poster, diriin warung, bikin souvenir sampe pengerahan massa. Makanya nggak heran kalo tim sukses kontestan pilpres getol berekspe-disi mencari penampakkannya. Hasilnya bisa kita lihat. Pasangan Mega-Hasyim Rp 103,096 miliar, Wiranto-Wahid Rp 49,491 miliar, Sby-Kalla Rp 60,385 miliar, Amien-Siswono Rp 22,007 miliar, dan Hamzah-Agum Rp 2,75 miliar (Kompas, 05/07/04). Semuanya duit lho. Asli tanpa campuran daun. Gile beneer….dari mana ya duit sebuanyak itu?

Kalo menurut UU Pemilihan Presiden No. 23/2003, dana kam-panye Pilpres 2004 berasal dari 3 sumber yaitu dari capres sendiri, dari parpol yang mencalonkan dan dari pihak lain yang tidak mengikat seperti perseorangan dan badan usaha. Dari semua sumber, kayaknya aliran dana dari pihak ketiga yang mendominasi. Malah bisa meli-batkan pihak asing. Nah lho? Nggak bo’ong.

Sekjen Government Watch (GOWA) Andi Syahputera menuturkan, aliran dana asing dalam pemilu sudah menjadi rahasia umum, karena sudah terjadi sejak zaman Soeharto berkuasa. “Cuma permasalahan-nya, untuk membongkar aliran dana asing ini sangat sulit dilakukan dan susah dicari pembuktiannya”. Biasanya aliran dana asing itu berasal dari pengusaha-pengusaha Cina, AS, dan Eropa yang punya kepentingan bisnis di Indonesia. Mereka ini sangat menginginkan pemimpin Indonesia yang bisa menstabilkan kondisi ekonomi dan keamanan di dalam negeri, untuk mengamankan bisnis mereka di Indonesia. (Eramuslim, 18/06/04).
Masa kampanye pemilu pun nggak luput dari pelanggaran. Ini yang bikin KPU pusing tujuh keliling lapangan senayan. Dalam pemilu legislatif aja, Mabes Polri telah menerima laporan 1.009 kasus pelanggaran selama masa kampanye dan hari H Pemilihan Umum (Pemilu) 5 April di seluruh tanah air. (Tempo interaktif, 08/05/04). Sementara dalam masa kampanye pemilu eksekutif, panwaslu mencatat 267 pelanggaran administrasi dan 63 pelanggaran pidana. (Panwaslu, 02/07/04).

Nggak ketinggalan, janji-janji surga dari para kontestan pun mewarnai masa kampanye. Mewujudkan cita-cita reformasi, penyediaan lapangan kerja, meminimalisasi biaya pendi-dikan, pemberantasan KKN, peningkatan taraf ekonomi, sampai upaya pengentasan kemis-kinan begitu laku ‘dijual’ oleh para jurkam (juru kampanye lho bukan juragan kambing!). Sayangnya, nggak ada satu pun partai politik Islam atau kontestan pilpres yang terang-terangan berani menyuarakan Islam dan mengkritisi sistem sekular. Gaung penerapan syariat Islam nyaris tak terdengar saat kampanye. Padahal mereka punya kesempatan untuk itu. Apa karena ‘dagangan’ syariat Islam nggak laku ‘dijual’ di atas panggung kampanye? Hmm…bisa jadi tuh!

Udah gitu, masa kampanye yang idealnya jadi ajang untuk mengenal lebih dekat calon yang akan dipilih, minim dari pemaparan visi, misi, dan program yang akan dijalankan. Malah salah satu peserta pilpres dari moncong putih menuturkan tak perlu menyampaikan visi, misi, serta prog-ram yang akan dilakukan ca (wa) pres jika terpilih mengingat masa kam-panye yang hanya satu bulan. (Republika, 19/06/04). Lha, piye iki?

Perbaikan di bawah panji demokrasi?
Sobat muda muslim, pemilu dan perubahan udah dinobatkan jadi dua sejoli dalam pemerintahan demokrasi. Nggak ada perubahan formasi para pejabat pemerintahan tanpa melalui proses pemilihan wakil rakyat ini. Baik anggota dewan, presiden, wakilnya, maupun susunan kabinet. Melalui pemilu, diharapkan para new comer emang orang yang dikehendaki oleh rakyat. Biar mampu menyalurkan aspirasi rakyat dan nggak lupa memperjuangkan hak-hak rakyat yang terkikis oleh para kapitalis. Sesuai mottonya, “dari rakyat-oleh rakyat-dan untuk rakyat.”

Sayangnya, motto pemerintahan rakyat itu sering nggak muncul dalam pemerintahan pascapemilu. Para kapitalis yang ikut ‘patungan’ untuk membiayai kampanye bakal minta bagian. Dari jatah jabatan pemerintah yang strategis, kewenangan mengelola sumber daya alam, hingga kekebalan hukum atas bisnis yang mereka jalankan. Para wakil rakyat pun akan mendapat banyak ‘rezeki nomplok’ dari para kapitalis itu agar kebijakan pemerintah yang dikeluarkan berpihak padanya. Sementara kewajiban mengurusi rakyat yang ada di pundak anggota dewan cuma masuk daftar tunggu prioritas. Makanya pas banget kalo kita bilang motto itu diubah menjadi “dari rakyat kecil (masyarakat) oleh rakyat menengah (para wakil rakyat) dan untuk rakyat besar (para konglomerat)”. Akur? Kudu!

Sobat muda muslim, pelaksanaan pemilu dalam bingkai demokrasi di setiap negeri Islam khususnya, semata-mata untuk melanggeng-kan sistem sekular itu. Buktinya, parpol pemenang pemilu atau wakil rakyat yang terpilih nggak boleh ngotak-ngatik falsafah negara dan UUD yang menjadi asas negara. Apalagi sampe menggantinya dengan aturan yang nggak sekular. Bisa berabe urusannya. Karena bertentangan dengan UU pemilu dan UU parpol yang udah disahkan. Karena itu, kita nggak akan pernah menjumpai perbaikan kondisi di bawah bendera demokrasi. Percaya deh!

Udah gitu, dosa lagi. Ibnu Taimiyah dalam “Majmu al-Fatawa” mendefinisikan tahkim (at-Tahaakum) sebagai sebuah aktivitas ibadah dan berkata, “Jika seseorang memutuskan perkara dengan selain agama Allah Swt. adalah musyrik.” Jadi, jika seseorang berargumen bahwa dia tidak tahu bahwa memilih suatu kekufuran ataupun memilih orang muslim namun berideologi dan bercita-cita tidak ingin menegakan syariat Islam adalah suatu hal yang serius, hendaknya dia mengambil pelajaran dari Abdullah bin Abbas r.a. yang berkata “Dan orang akan men-jadi kafir karena ketidak-tahuannya.” Sehingga hal ini dipandang sebagai syirik akbar yang tidak dapat diampuni. Naudzubilahi min dzalik!

Berjuang tegakkan syariat Islam
Kedigjayaan Islam pada masa lalu terjadi justru karena dijadikannya Islam sebagai ideologi negara. Sementara dalam demokrasi, agama (Islam) wajib dipisahkan dari peme-rintahan. Itu artinya, kalo kita ingin mengubah kondisi negeri ini dan negeri-negeri Islam yang tengah terpuruk kuncinya cuma satu, ya kunci mas eh, tegaknya pemerintahan Islam alias Daulah Khilafah Islamiyah. Pemerintahan yang dikomandani oleh khalifah ini yang akan mengurusi dan mengayomi sepenuh hati rakyatnya dengan aturan Allah. Sehingga kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, keamanan, keluarga dan ibadah kita akan terjaga. Gimana nggak ngangenin coba?

Untuk sampai pada tegaknya kekhilafahan Islam, kita bersama umat kudu menggalang kekuatan. Sebagai pengemban dakwah, kita jelaskan pemahaman keliru tentang Islam yang berkembang di masyarakat. Kita ubah standar perbuatan mereka dari manfaat bin materi menjadi halal dan haram. Nggak lupa juga kita tanamkan keyakinan umat terhadap syariat Islam sebagai satu-satunya solusi dari setiap masalah yang menghampiri kita. Dengan begini, perubahan kondisi yang kita kehendaki nggak cuma janji. Pasti jadi!

Sobat muda muslim, pemilu boleh berlalu, tapi perjuangan kita nggak boleh surut. Kudu tetep berlanjut. Iya dong, selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula dakwah Islam kita kobarkan. Sehingga hari-hari kita dipenuhi aktivitas yang mulia dan bertaburan pahala. Makanya rugi banget buat orang yang hidup tanpa aktivitas dakwah. Oke deh. Pokoknya, tiada kemuliaan tanpa Islam, tiada Islam tanpa syariat, dan tiada syariat tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah. Yo’i gak Coy? Huhuy!

Tapi inget, kita juga kudu siap ngadepin masalah dalam dakwah. Terutama dengan lingkungan tempat kita berdakwah. Rumah, keluarga, sekolah, kampus, atau tempat kerja. Apalagi saat kita coba istiqomah dengan aturan Islam. Akan selalu ada pihak yang beda pendapat dengan kita. Dari yang biasa sampe yang bikin sewot. Ada yang ngomong kalo saat ini udah waktunya hukum Islam menyesuaikan dengan realitas yang terjadi. Buat apa tereak-tereak mau diriin negara Islam kalo kebanyakan masyarakat lebih akur dengan demokrasi. Ringan sih, tapi dalem kan?

Lebih dalem lagi pas ada yang bilang perjuangan menegakkan khilafah itu utopia alias khayalan belaka. Padahal kalo kita piki-piki, yang berjuang dalam jalan salah, justru itulah yang utopia. Soalnya jalan yang kita pilih udah terbukti berhasil seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. hingga tegaknya Daulah Islam di Madinah. Sementara jalan yang lain, cuma trial and error! Yakin deh.
Yang penting buat kita, adalah berjuang untuk Islam semaksimal mungkin dengan apa yang kita miliki. Perkara hasil dan risiko yang bakal terjadi, serahkan kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah akan selalu bersama kita. Jadi nggak usah minder apalagi pusing mikirin suara sumbang dalam aktivitas dakwah. Kita berharap bisa seperti Rasulullah saw. dan para sahabat yang gigih mendakwahkan Islam. Pantang mundur walau selangkah. Meski penganiayaan, boikot, hingga fitnah senantiasa menghujani mereka. Pemilu boleh berlalu, tapi dakwah Islam kudu tetep maju. Di mana kaki berpijak atau oksigen dihirup, di sanalah dakwah Islam kita serukan. Tetep istiqomah![hafidz]



20.6.04

Forum Diskusi SCB

Sobat Muslim,
Alhamdulillah, SCB sudah punya papan diskusi.
klik aja di atas. So, kamu bisa cuap-cuap sama crew SCB, juga member SCB dan diskusi seputar ke-Islaman. Ini hasil kerjabareng ama Muslimuda Institute

http://www.muslimuda.tk





17.6.04

NGAJI YUK!!!



Bukannya mau merendahkan remaja sekarang. Terus terang saja bila kita perhatikan, sungguh anak remaja sekarang sangat memprihatinkan. Apalagi bila dibandingkan dengan remaja di jaman Rasul jauh sekali bedanya. Jika di massa Rasul, seusia 8 tahun udah terlibat dalam perjuangan bersama Rasul. Sebut saja Ali kecil yang saat itu masih berusia 8 tahun dan Zubair bin Awam. Demikian juga ada Usamah bin Zaid, di usia 18 tahun, sudah tampil ke depan sebagai pemimpin pasukan perang. Remaja jaman kiwari? Remaja seusia ini lagi asyik-asyiknya ngeceng di mall-mall, pamer diri. Trenyuh emang…

Bila nanya ke mereka kenal nggak sama Bilal bin Rabbah atawa Zaid bin Tsabit. Jawabannya? Geleng-geleng kepala, ndak tahu! Emang kuper sih. Berbeda kalo menyinggung Britney Spears, atawa Eminem, dkk, eit, obrolan pasti akan nyambung. Mereka tahu banget Bintang kontemporer macam itu. Mulai hobinya, pakaian kesenangannya, warna kesukaannya sampe nomor sepatunya hapal di luar kepala.

Sedih emang melihat fenomena seperti di atas. Bagaimana jadinya umat ini jika generasi remajanya semacam ini? Ngedugem, individualis, hooliganis, menjadi tren remaja masa kini. Walaupun emang hal tersebut bukan hanyamenimpa kalangan remaja saja, generasi bapak-bapak pun tidak jauh bedanya. Memang pilu nian hati ini memperhatikannya. Mengaku Islam tapi tak kenal ajaran Islam. Diajak berjuang melanjutkan kehidupan Islam, takut!

Harus Punya Sikap, Dong!

Bagi kita yang mengaku masih punya nyali, tentu tidak akan membiarkan fenomena ini terus berlangsung. Harus segera bertindak secepatnya. Karena terus terang saja ini adalah penyakit yang emang udah mengakar di jiwa umat Islam. Harus segera diobati dan dibuang jauh-jauh penyakit macam itu.

Melakukan perubahan salah satu caranya. Rubah dari keadaan yang rusak ke keadaan yang baik dan benar. Apa yang harus kita rubah? Tentu semuanya. Namun dari mana mengawali perubahan tersebut?

Kalo kita mau berfikir jernih dan menggali secara mendalam penyebab rusaknya kehidupan remaja plus orang tuanya—baca: umat Islam. Akan kita temukan bahwa kebodohan yang telah menimpa umat ini merupakan salah satu penyebab kemorosatan umat. Mengapa? Karena tindak tanduk perilaku kita kan berawal dari sebuah pemahaman. Sedangkan pemahaman itu berawal dari sebuah pemikiran. Rusaknya pemikiran umat inilah yang menjadikan remaja Islam rela melepaskan jati dirnya sebagi umat Islam. Bahkan merasa malu dan kuno alias kampungan kalo berinterkasi dengan Islam. Ngerasa nggak?

Belajar Islam, Kudu!

Tak kenal maka tak sayang. Satu pepatah yang sudah tak asing lagi di kuping. Memang bila kita tak kenal ama teman kamu rasa sayang mungkin akan surut. Begitu pula kamu nggak kenal ama guru fisika kamu, yah rasa sayang akan lenyap. Bisa jadi kamu nggak suka ama pelajarannya karena emang kamu nggak kenal gimana asyiknya belajar Fisika. Makanya pepatah ini kadang dijadikan juga sebagai dalil pelegalan untuk melakukan kegiatan pacaran.

Untuk mengenal Islam tentu tidak cukup hanya mengandalkan dari bangku sekolahan saja. Tahukan porsi pelajaran agama di sekolahan cuma 2 sks. Belum lagi waktu yang segitu teh untuk ngabsen. Apalagi bila gurunya jarangnya hadir hadir, repot dong mengharapkan peserta didik yang berimtaq. Kita juga tidak cukup belajar Islam hanya sekedar yang ritual saja. But, kita harus memahami Islam ini secara komprenhensif alias menyeluruh. Tidak cukup hanya kenal shalat, puasa, akhlak belaka. Kita pun perlu memahami bagaimana Islam mengatur tentang pergaulan, bagaimana Islam mengatur tentang pacaran, pakaian sampai ke masalah sistem pemerintahan, politik ekonomi dan sebagainya.


Mengapa Musti Beslajar Islam?

Pertama, ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna. Islam adalah ajaran yang khas, berbeda dengan ajaran yang lain. Bukan hanya mengatur urusan manusia dengan Tuhannya, tapi Islam juga mengatur segala aspek kehidupan. Sampai mau masuk ke toilet pun ada aturannya. Apalagi urusan yang lebih besar seperti tata negara, ekonomi, pergaulan, hukm dan sebagianya diatur oleh Islam. Nah, bagaimana mungkin kita akan tahu ajaran yang sempurna ini, bila kita tidak mengkajinya. Nggak mungkin, non!

Kedua, karena kita adalah remaja Islam yang bukan anak-anak lagi. Remaja itu udah baligh alias sudah kena beban hukum. Misalkan sholat adalah wajib, maka kita sudah terkena taklif kewajiban untuk mendirikan sholat. Kalau nggak melakukan ya berdosa. Begitu juga belajar Islam, merupakan perkara yang wajib bagi seorang muslim.

Ketiga, dengan memahami Islam secara kaafah, kita dapat membedakan hukum syara’. Kita tidak akan mengetahui mana perbuatan yang wajib dan mana yang haram atau mana yang sunah dan makruh, atau perbuatan yang boleh dilakukan tanpa belajar Islam. Akibatnya mungkin kamu tidak dapat menentukan prioritas perbuatan yang kudu dilakukan. Makanya tak aneh banyak remaja yang mementingkan maen bola daripada ikut ngaji dengan teman-teman rohis. Karena emang mereka mungkin tidak tahu mana yang harus diprioritaskan.

Keempat, kita punya tugas berdakwah. Dakwah atau menyeru orang ke Islam itu bukan hanya kewajiban yang punya gelar Kyai atau ustadz saja. Tapi kewajiban setiap individu muslim, termasuk remaja. Untuk mengajak orang lain ke Islam tentu kita harus punya bekal. Seperti halnya orang yang berjualan harus punya modal dulu. Nah di sinilah pentingnya kita mengakaji Islam ini.

Kelima, kita semua akan mati. Siapa pun orangnya temasuk kamu tentu akan kembali pada Sang Pencipta. Di sana kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah kita lakukan. So, apa yang akan kita jawab jika ditanya: Kau gunakan untuk apa masa mudamu? Hanya satu bekal yang akan kita bawa yaitu amal kita. Apalagi yang namanya ajal itu tidak pandang bulu dan tidak pandang umur. Walaupun masih muda, bila ajal menjemput, tidak bisa dihalang-halang. Karena itu, untuk memahami Islam tidak usah ada kata nanti dulu. Lagian kita nggak bisa ngejamin esok lusa masih menghirup udara atau nggak. So, Aa Gym bilang "Lakukan mulai saat ini juga!".

Insya Allah bila remaja Islam melek tentang kewajiban ini dan menjadikan Islam ini sebagai way of life dirinya, kejayaan Islam yang ditunggu tidak akan lama lagi. Insya Allah!!! (ZnMq)

Ahlan Wa Sahlan di SCB

Assalamu'alikum Wr. Wb.
Halo, Sobat Muda Muslim, Apa kabar?
Alhamdulillah, semoga Allah selalu memberikan hidayah dan taufik kepada kita semua. amin.

Kita pengen ngucapin selamat datang aja di Studia Club Bandung (SCB). Di sini kamu bisa nge-update info-info terbaru dari SCB. Kamu juga dapat ngirimin tulisan kamu. Juga bisa kenalan sama kita-kita di SCB. So, semoga bermanfaat bagi siapa saja.

Oh, iya kita juga nunggu kritik, saran, masukkan, juga pujian. Kirim aja lewat coment atawa ke e-mail: studia_bdg@yahoo.com

Wassalam
Fatih Khalilullah
Admin Team SCB